Kuliah Perdana Program Studi Magister FEB Unpad: Dinamika Perkembangan Ekosistem Keuangan Digital di Indonesia, Peluang dan Tantangan.

Di Indonesia, hadirnya fintech telah membantu masyarakat menyelesaikan berbagai masalah, salah satunya mempertemukan pemberi dana dengan penerima dana dalam melakukan pendanaan konvensional secara langsung melalui sistem elektronik dengan menggunakan internet. Saat ini, terdapat sekitar 999 ribu lender, 99.79 juta borrower, dengan jumlah 102 perusahaan telah mendapatkan izin dari OJK, dan sekitar 528 triliun rupiah agregat pinjaman yang telah disalurkan.Dinamika teknologi ini bisa menjadi peluang sekaligus tantangan bagi setiap lini industri. 

Dalam rangka menjawab peluang dan tantangan tersebut, Pusat Studi Inovasi Digital FEB Unpad (DIGITS) dan Program Studi Magister Manajemen FEB Unpad, bersama Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyelenggarakan Talkshow & Kuliah Perdana Program Studi Magister di lingkungan FEB Unpad, dengan tajuk: Dinamika Perkembangan Ekosistem Keuangan Digital di Indonesia: Peluang dan Tantangan. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, khususnya mahasiswa S2 (Magister) yang ada di lingkungan FEB Unpad dan masyarakat umum mengenai perkembangan ekonomi digital khususnya di bidang keuangan digital yang turut serta berkontribusi mewujudkan pemerataan ekonomi nasional.

Talkshow dan Kuliah Perdana dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 24 Feb 2023 bertempat di Aula Prodi MM FEB Unpad, Bandung. Kegiatan tersebut menghadirkan perwakilan dari asosiasi, praktisi, regulator, dan akademisi. Talkshow ini menghadirkan 2 narasumber  yaitu Entjik S. Djafar (Ketua Bidang Edukasi, Literasi dan Riset AFPI & CEO DanaRupiah) dan Dr. Erman Sumirat, SE. , MBuss., CSA., , CWM., CRP., CIB., Ak (Dosen Keuangan FEB Unpad). Sesi talkshow dipandu oleh Ibu Arie Widyastuti B.A., M.M. selaku moderator. Kegiatan ini dimulai dengan sambutan oleh Bapak Triyono Gani selaku Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK dan Bapak Dr Kurniawan Saefullah, S.E., MEc  selaku Wakil Dekan FEB Unpad. 

 Entjik S. Djafar, selaku Ketua Bidang Edukasi, Literasi dan Riset AFPI, CEO DanaRupiah dalam talkshow tersebut, menjelaskan bagaimana perkembangan ekosistem keuangan digital, serta peluang dan tantangan yang dihadapi saat ini. Ekosistem keuangan digital memiliki peluang yang besar, seperti asset baru berupa big data yang dapat dimangaatkan untuk produksi dan distribusi barang dan jasa secara efisien, smart village yang mampu meningkatkan digitalisasi ekonomi, dan kemudahan cashless dalam transaksi. Namun, keamanan cyber, minimnya pertumbuhan ekonomi digital sumber daya manusia, akses internet yang belum tersebar, dan masih banyaknya pembayaran manual di masyarakat, menjadi tantangan bagi perkembangan ekosistem keuangan digital.

Selain itu, Bapak Entjik juga menjelaskan peluang dan tantangan dari sisi fintech pendanaan bersama. Peluang melayani kebutuhan kredit yang besar, dukungan inklusi keuangan digital, dan prospek ekonomi digital menjadi peluang besar bagi industri fintech pendanaan bersama. Namun, terdapat pula tantangan Industri Fintech Pendanaan Bersama yaitu Ancaman Resesi Global, Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), Governance dan Risk Management, Keandalan Sistem dan Credit Scoring, Pengembangan Produk/Model Bisnis; dan Eksplorasi Ekosistem dan Keamanan Siber. Dengan adanya berbagai tantangan yang terjadi, perlu adanya kesiapan Industri Fintech Pendanaan Bersama diantara dengan E-KYC yang diharapkan bisa mengurangi tingkat fraud atau penipuan yang terjadi di masyarakat, penerapan Code of Conduct, Fintech Data Center membantu platform fintech lending, Credit Scoring, serta Training and Certification.

Dr. Erman Sumirat, menjelaskan tingginya jumlah pelaku UMKM di Indonesia dan individu yang belum memiliki akses kredit, padahal, kebutuhan pembiayaan masyarakat setiap tahunnya masih sangat tinggi, yakni mencapai Rp1.600 triliun per tahun. Menurut Dr. Erman, salah satu permasalahnnya adalah edukasi dan literasi, dan sedikitnya jumlah masyarakat yang turut berpartisipasi dan mendapatkan edukasi fintech dari pemerintah, asosiasi, dan pelaku industri. Dr. Erman Sumirat juga menjelaskan beberapa isu yang perlu diperhatikan, seperti Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (PDP), penindakan tegas kunci dalam memberantas investasi ilegal. Mengingat, berdasarkan data yang dirilis oleh Satgas Waspada Investasi (SWI) sepanjang tahun 2022, total kerugian akibat praktik investasi ilegal mencapai Rp109 triliun. Tidak hanya itu, banyak upaya yang dapat dilakukan seperti pemanfaatan QRIS Antarnegara menjembatani UMKM dengan wisatawan mancanegara local, kolaborasi yang lebih luas antara bank dan fintech (Merger & Akuisisi), dan edukasi serta upaya kolaboratif berhasil meningkatkan trust terhadap P2P lending.

Tags: